KATAKARTA.ID, PPU – Meningkatnya kasus penipuan daring dengan pola Manipulasi Psikologis atau yang kerap dikenal dengan istilah Social Engineering menjadi perhatian serius berbagai pihak. Direktur CV. Puntadewa Amarta Karya, Andika A. Yudhistira, atau yang akrab disapa Mas Yudis, mengeluarkan pernyataan resmi sekaligus imbauan kepada masyarakat agar lebih waspada, mengantisipasi sejak dini, dan melindungi keluarga dari ancaman penipuan berbasis rekayasa psikologis ini.
Menurut Mas Yudis, Social Engineering adalah bentuk kejahatan digital yang tidak sepenuhnya menyerang celah teknologi, melainkan memanfaatkan kelemahan psikologis dan emosional manusia. Para pelaku biasanya menggunakan tipu daya dengan menyamar sebagai pihak resmi seperti bank, lembaga pemerintah, atau perusahaan terpercaya untuk memanipulasi korban agar menyerahkan data pribadi, kode OTP, hingga akses finansial.
“Kejahatan jenis ini sangat berbahaya karena menyasar sisi psikologis manusia, bukan sistem. Dengan kalimat yang meyakinkan, memanfaatkan rasa panik, takut, bahkan empati, korban sering kali tanpa sadar memberikan informasi penting yang seharusnya dijaga. Inilah yang membuat Social Engineering menjadi salah satu ancaman terbesar di era digital,” ujar Mas Yudis.
Mas Yudis menyoroti bahwa kasus penipuan online dengan modus manipulasi psikologis juga semakin marak terjadi di Penajam Paser Utara (PPU). Berdasarkan laporan masyarakat, sejumlah warga di daerah tersebut telah menjadi korban, mulai dari modus penipu yang mengaku teman satu kantor yang meminta dikirimi pulsa, penipuan berhadiah uang puluhan juta, hingga penyalahgunaan data pribadi melalui pesan singkat dan media sosial.
“Fenomena ini tidak lagi hanya terjadi di kota-kota besar. Di Penajam Paser Utara, sudah ada banyak laporan warga yang mengalaminya. Ada yang diiming-iming hadiah, ada yang mengaku teman dekat dengan menghubungi korban menggunakan nomor baru dan profil dari teman korban berujung meminta dikirimi uang atau pulsa, ada juga yang diarahkan untuk mengklik tautan tertentu hingga akhirnya data pribadinya dicuri. Ini bukti nyata bahwa kita di daerah pun tidak boleh lengah,” jelasnya.
Mas Yudis menegaskan, maraknya kasus ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga mengancam ketahanan keluarga. Kelompok rentan seperti orang tua yang kurang memahami teknologi, anak-anak yang aktif menggunakan gawai, hingga pelaku usaha kecil yang tergiur tawaran instan, menjadi target utama para pelaku.
“Melindungi diri sendiri memang penting, tetapi melindungi keluarga jauh lebih utama. Jangan sampai orang tua atau anak-anak kita menjadi korban karena kurang memahami modus para penipu. Kita harus hadir, memberikan edukasi, dan membangun kesadaran kolektif agar seluruh anggota keluarga memiliki literasi digital yang memadai,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi, Mas Yudis menyarankan beberapa tindakan preventif yang harus ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya:
- Jangan mudah percaya terhadap panggilan telepon, pesan singkat, atau tautan yang meminta data pribadi, terlebih jika disampaikan dengan nada mendesak atau menakut-nakuti.
- Verifikasi dua arah dengan menghubungi langsung pihak resmi yang bersangkutan melalui kanal yang terpercaya, bukan nomor atau tautan yang diberikan pelaku.
- Edukasi keluarga tentang jenis-jenis penipuan online yang sedang marak, agar anak maupun orang tua bisa mengenalinya sejak awal.
- Lindungi data pribadi seperti KTP, nomor rekening, email, hingga kode OTP, karena semua itu merupakan kunci yang paling dicari pelaku kejahatan digital.
- Bangun budaya waspada digital dengan saling mengingatkan antaranggota keluarga maupun lingkungan sekitar.
Mas Yudis menekankan bahwa pencegahan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Perlu keterlibatan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dunia usaha, serta tokoh masyarakat di Penajam Paser Utara untuk meningkatkan literasi digital dan sosialisasi tentang modus kejahatan siber.
“Pencegahan tidak bisa dilakukan secara parsial. Pemerintah harus terus menggencarkan sosialisasi, sekolah wajib menanamkan literasi digital sejak dini, dan dunia usaha juga harus mengedepankan keamanan data bagi konsumennya. Dengan sinergi ini, kita bisa memutus rantai kejahatan online yang semakin berkembang, termasuk di Penajam Paser Utara,” ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, Mas Yudis mengajak masyarakat untuk saling mengingatkan dan tidak ragu melaporkan bila menemukan indikasi penipuan.
“Mari kita jadikan kesadaran digital sebagai bagian dari gaya hidup. Sama halnya seperti kita waspada terhadap pencuri di dunia nyata, kita juga harus waspada terhadap penjahat di dunia maya. Semakin cepat kita menyadari, semakin kecil kemungkinan mereka berhasil. Dan di Penajam Paser Utara, kesadaran ini harus semakin kita kuatkan bersama-sama,” pungkasnya.





